26 Februari 2021

Analisa Laporan Keuangan Bank Syariah



Oleh: Agus Salim 
1961101021 

Program Pascasarjana Magister Keuangan Syariah, Institut Teknologi Dan Bisnis Ahmad Dahlan  Jakarta Tahun 2021
-------------------------------------



Pesatnya perkembangan perbankan syariah di Indonesia selama hampir tiga dekade ini, belum memperlihatkan keberpihakan umat muslim Indonesia terhadap pilihan layanan transaksi keuangan mereka. Market share yang masih rendah menunjukkan ketimpangan tersebut mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

BRI Syariah merupakan anak usaha dari Bank Milik Negera terbesar yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. BRISyariah mulai menjalankan operasionalnya sejak tanggal 17 November 2008. Saham PT Bank BRI Syariah Tbk melesat 20 persen selepas pengumuman perubahan nama dan logo perseroan. Perubahan tersebut sejalan dengan rencana merger dengan Bank Syariah Mandiri dan Bank BNI Syariah. Pada perdagangan hari ini, JUmat (11/12/2020), saham BRIS terpantau naik 300 poin atau 20,13 persen ke level 1.790 pada pukul 13.46 WIB. Saham BRIS dibuka di level 1.500, naik 10 poin dibandingkan dengan posisi penutupan kemarin. Saham BRIS sempat menyentuh level tertinggi 1.840. Total perdagangan saham BRIS mencapai 680,83 juta lembar dengan nilai transaksi Rp1,13 triliun. Investor asing mencatat net buy dengan torehan Rp27 miliar.

Pada tahun 2019, dari kuartal 1 hingga 4 tingkat NPF BRISyariah terlihat semakin membaik. Dimana tingkat NPF pada kuartal 1 sebesar 4,34 persen turun menjadi 3,38 persen pada kuartal 4. Sedangkan pada tahun 2020, tingkat NPF BRISyariah tercatat 2,95 persen di kuartal satu dan semakin membaik pada kuartal Tiga dengan capaian 1,73%.

Pertumbuhan ini menandakan BRI Syariah yang terus mencari peluang di tengah pemberlakuan transisi pembatasan sosial berskala besar. Untuk memperluas pasar, BRISyariah memanfaatkan value chain dan trickle down business dari nasabah-nasabah komersial. Selain itu BRIsyariah terus memperluas kerjasama dengan pihak-pihak ketiga agar bisnisnya semakin kuat dan pasar produk semakin besar.



Bank Syariah Mandiri (nama dagang sebagai Mandiri Syariah) adalah lembaga perbankan di Indonesia. Bank ini berdiri pada tahun 1955 dengan nama Bank Industri Nasional. Bank ini beberapa kali berganti nama dan terakhir kali berganti nama menjadi Bank Syariah Mandiri pada tahun 1999 setelah sebelumnya bernama Bank Susila Bakti yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai BDN dan PT Mahkota PrestasiPerolehan DPK menjadikan aset Mandiri Syariah di tahun 2019 pada kuartal 4 mencapai angka Rp 99,80 triliun. Sampai saat ini, angka aset Mandiri Syariah di atas Rp 100 triliun merupakan pencapaian tertinggi bank syariah di Indonesia. Bila dilihat dari tabel diatas diatas, peningkatan dana pihak ketiga (DPK) di tahun 2019 tidak terlalu terlihat signifikan. Pada kuartal pertama Bank Syariah Mandiri (BSM) mampu menghimpun dana dana senilai Rp 87,15 triliun kemudian pada kuartal kedua Rp 87,35 triliun. Pada kuartal ketiga dana pihak ketiga terhimpun senilai Rp 90,49 triliun, dan pada kuartal 4 Dana pihak ketiga (DPK) ini meningkat senilai Rp 99,80 triliun. Namun, pada tahun 2020, terlihat peningkatan dana pihak ketiga (DPK) Bank Syariah Mandiri (BSM) terlihat signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari kuartal 1 tahun 2020 tercatat dana pihak ketiga mencapai Rp 101,78 triliun dan pada kuartal 2 dan 3 tahun 2020, dana pihak ketiga (DPK) BSM sebesar Rp 101,78 triliun dan Rp 106,11 triliun.Peningkatan DPK tersebut menjadikan nilai aset Mandiri Syariah mencapai Rp119,43 triliun atau naik 16,19% dari September 2019 yang sebesar Rp102,78 triliun.

Rasio pembiayaan bermasalah BSM tercatat mengalami perbaikan di tahun 2019 dari kuartal 1 sebesar 1,29 persen hingga kuartal 4 sebesar 1,00 persen. Bahkan selama masa pandemi, tingkat NPF BSM mengalami penurunan signifikan hingga 0,61 persen pada kuartal 3 tahun 2020. Langkah BSM selama pandemi ini adalah dengan memperkuat cadangan sebagai antisipasi risiko khususnya bagi nasabah yang direstrukturisasi, dengan meningkatkan cash coverage sebesar 34,17% menjadi 141,26% per September 2020.

Kinerja Bank Syariah Mandiri berhasil selama semester I 2020 membukukan laba bersih sebesar Rp719 miliar per Juni 2020 naik signifikan 30,53%. Hingga 31 Agustus 2020 juga restrukturisasi pembiayaan yang dilakukan Mandiri Syariah sudah mencakup 29.000 nasabah dengan outstanding Rp 7,1 triliun.

Sampai bulan September 2020, jumlah transaksi melalui Mandiri Syariah Mobile (MSM) melonjak hingga 90% dengan jumlah mencapai 31,89 juta transaksi. Transaksi buka rekening dari handphone, inovasi pembukaan rekening online pertama yang dimiliki bank syariah di Indonesia pun mencatat jumlah signifikan yaitu 32 ribu pembukaan rekening per bulan. Angka ini juga menunjukkan bahwa sebanyak hampir 40% nasabah baru melakukan pembukaan rekening secara online.

Sebagai bentuk dukungan pada nasabah terdampak Covid-19, Bank Syariah Mandiri telah memberikan solusi dengan membentuk pola dan skema restrukturisasi bersama bagi nasabahnya. Hingga saat ini Mandiri Syariah telah merestrukturisasi pembiayaan senilai Rp8 triliun kepada lebih dari 28ribu nasabah di seluruh Indonesia, yang 40% diantaranya merupakan nasabah segmen UMKM.

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (“Bank Muamalat Indonesia”) memulai perjalanan bisnisnya sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia pada 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H. Pendirian Bank Muamalat Indonesia digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Republik Indonesia. Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992 atau 27 Syawal 1412 H Kinerja PT Bank Muamalat Indonesia semakin memburuk. Laba bersih bank syariah pertama di Tanah Air ini anjlok pada semester I 2019. Di sisi lain rasio pembiayaan bermasalah Bank Muamalat kian menggunung. Mengutip laporan keuangan Bank Muamalat, Senin (12/8), Muamalat hanya mampu mengantongi laba bersih sebesar Rp 5,08 miliar sepanjang paruh pertama 2019. Capaian itu anjlok 95% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang sebesar Rp 103,7 miliar. Anjloknya perolehan laba bersih itu sejalan dengan penurunan pendapatan penyaluran dana sebesar 24,7% dari 1,78 triliun menjadi Rp 1,34 triliun. Sedangkan bagi hasil untuk pemilik dana investasi cenderung stabil yakni Rp 1,13 triliun. Pembiayaan Bank Muamalat juga melambat. Per Juni 2019, total pembiayaan bank ini hanya Rp 15,70 triliun yang terdiri dari Mudharabah Rp 461 miliar dan Musyarakah Rp 15,24 triliun. Padahal di periode yang sama tahun lalu, Bank Muamalat mencatat pembiayaan sebesar Rp 17,68 triliun yang terdiri dari Mudharabah Rp 548 miliar dan Musyarakah Rp 17,13 triliun. Artinya capaian pembiayaan bank ini melorot 10,7% secara year on year (yoy) di paruh pertama tahun iniTotal aset Bank Muamalat per Juni 2019 mencapai Rp 54,57 triliun atau turun dari Juni 2018 yang ketika itu mencapai Rp 55,18 triliun. Selain itu, kualitas aset Bank Muamalat juga semakin memburuk yang ditandai dengan meningkatnya rasio non performing financing (NPF). Per juni 2019, NPF gross Bank Muamalat membengkak menjadi 5,41% dari 1,65% pada Juni 2018. NPF net juga naik tajam dari 0,88% menjadi 4,53% atau telah mendekati ambang batas normal sesuai ketentuan yakni 5%. Kinerja keuangan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BBMI) anjlok per kuartal II-2019. Rasio kecukupan modalnya (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat menurun hampir 4% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, menjadi 12,01%. Penurunan CAR juga pernah terjadi pada 2016 sebesar 1%.Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) bersih Bank Muamalat naik drastis hingga 4,53%. Rasio itu mendekati batas maksimal yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi bank untuk dikategorikan sehat, yakni sebesar 5%.Peran perbankan syariah di Indonesia dalam meningkatkan perekonomian umat dan nasional belum dominan, walaupun Indonesia memiliki potensi pasar yang bagus. Hal ini terlihat dari market share pada tahun 2019 masih di bawah 6%. Sehingga peranan dari islamic branding diperlukan. Dari hasil penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa preferensi customer dalam memilih layanan perbankan tidak hanya didasari oleh faktor religiusitas, melainkan juga timbul faktor-faktor lain yang signifikan, diantaranya adalah produk (jenis, manfaat, benefit dan fee), layanan (pelayanan di bank maupun online) dan tehnologi. Dan faktor dominan yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya berbeda-beda urutannya, hal ini dikarenakan customer dari perbankan syariah yang beragam dari usia, tingkat pendidikan dan agama. Dari penelitian sebelumnya juga diketahui adanya faktor reputasi, baik reputasi agama (prinsip yang dijalankan), keuangan serta manajemen bank (orang yang didalamnya) sebagai preferensi customer.Dari faktor-faktor yang timbul sebagai preferensi, sejalan dengan elemen pada marketing mix, 7Ps (product, price, place, promotion, process, people, physical). Berikut adalah diagram mapping faktor preferensi yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya terhadap marketing mix.



Dengan melakukan marketing strategy, maka strategi organisasi tidak hanya fokus terhadap satu faktor melainkan menggabungkan semua faktor atau elemen menjadi satu strategi branding yang komprehensif

Laba bersih yang hanya senilai Rp 6,57 miliar tersebut merupakan perolehan laba bersih terendah dalam 8 bulan pertama yang pernah dicatatkan oleh Bank Muamalat, setidaknya dalam 4 tahun terakhir.
Bank Muamalat dinilai terlalu fokus pada pendanaan korporasi yang mengakibatkan pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) meningkat tajam. Dengan kinerja keuangan seperti, suntikan modal dikhawatirkan tak akan mampu memutarbalikkan kondisi Bank Muamalat.

0 comments:

Posting Komentar